MPASI: Food Combining Atau Metode WHO

3 Jan

baby

Menjelang enam bulan usia Kenzie, sempat bingung juga mengenai pemberian MPASI, Apakah akan mengikuti  panduan  WHO ataukah Food Combining . Sebab awalnya aku hanya baca-baca di dokumen HHBF (  Homemade Healthy Baby Food ) mengenai Food Combining. Setelah itu baru tahu mengenai panduan MPASI menurut WHO,dari dokumen grup AIMI  dimana jika keduanya dibandingkan ada sedikit perbedaan.

Menurut panduan WHO  mulai usia enam bulan  bayi boleh diberikan menu karbo lengkap dengan sayuran dan protein nabati maupun hewani disertai  penjelasan lengkap berapa porsi dan frekuensi pemberian sedangkan  panduan mpasi-food combining dimulai dengan pemberian buah usia 6-7 bulan  lanjut dengan dikenalkan karbo, sayuran, protein nabati (kacang-kacangan).Sedangkan pengenalan protein hewani di usia 8 bulan , disertai pula penjelasan lengkap mengenai buah apa aja yang aman dikonsumsi sejak 6 bulan.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku lebih memilih pemberian MPASI standar WHO, mengingat anak-anakku terdahulu agak bermasalah dengan berat badan, meskipun sebenarnya pemberian MPASI standarWHO sendiri bukan hanya dianjurkan untuk bayi yang bermasalah dengan berat badan. Pemberian MPASI mengikuti anjuran WHO sendiri sangat di dukung oleh AIMI ( Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ) karena beberapa alasan, diantaranya:

PERTAMA, angka Anemia Defisiensi Besi (ADB), terutama untuk bayi antara usia 6-12 bulan itu sangat tinggi di Indonesia, yaitu lebih dari 40%. Sesuai rekomendasi WHO, negara-negara dengan angka ADB di atas 40% harus memiliki program nasional untuk pemberian zat besi, baik zat besi dalam makanan maupun zat besi dalam bentuk suplemen. Dan yang juga harus Anda ketahui, ADB bisa menyerang semua bayi, terlepas dari apapun latar belakang ekonominya dan seringkali ADB tidak menunjukkan tanda-tanda fisik yang jelas. Nah, sumber zat besi yang paling mudah diserap tubuh adalah yang berasal dari protein hewani. Itu kenapa, protein hewani dalam metode WHO disarankan dikenalkan sejak usia 6 bulan. KEDUA, bahwa angka bayi/balita stunting atau pendek di Indonesia sangat tinggi? Berdasarkan statistik UNICEF dan Kementerian Kesehatan, sepertiga bayi/balita di Indonesia (angka pastinya sekitar 35,6%) mengalami stunting atau bayi pendek. Saking tingginya angka ini, sampai-sampai lembaga internasional seperti UNICEF dan Uni Eropa tahun lalu membuat kerjasama khusus untuk membantu menekan angka stunting di Indonesia. Apa efek dari bayi stunting? Bayi/balita yang mengalami stunting memiliki potensi tumbuh kembang yang tidak sempurna, kemampuan motorik rendah, mempunyai produktivitas yang rendah dan memiliki risiko untuk menderita penyakit tidak menular. Kalau kita ambil data dari WHO, sepertiga anak Indonesia yang mengalami stunting itu, pada umur 5 bulan sudah kekurangan tinggi badan sekitar sekitar 7 cm. Dan pada umur 17 tahun dia sudah kehilangan hampir 14 cm. Rata-rata penyebab stunting adalah standar pemberian asupan yang kurang tepat, termasuk pemberian MPASI yang tidak memenuhi salah satu elemen penting pertumbuhan yaitu: protein. Tahukah Anda bahwa protein untuk bayi di bawah 1 tahun menyumbang 60-75% terhadap proses pertumbuhan? Jadi, tentu Anda paham apa sebabnya jika protein terlambat diberikan. Berdasarkan fakta-fakta di lapangan inilah maka AIMI mensupport pemerintah untuk mengedukASI pemberian MPASI dengan metode WHO. Karena salah satu cara untuk memperbaiki angka-angka statistik di atas adalah dengan fokus pada edukASI pemberian asupan yang benar dalam 1000 hari pertama kehidupan anak sesuai program pemerintah “Gerakan Nasional Sadar Gizi” . Apa saja di dalamnya? Di dalamnya berarti pemberian ASI hingga dua tahun dan pemberian MPASI yang benar.

Berikut adalah panduan pemberian MPASI menurut WHO , menurut dokumen FB AIMI

Panduan Umum WHO tentang MPASI

Poin-poin penting Infant and Young Child Feeding dari WHO terbagi atas 7 aspek: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Mari kita bahas bersama-sama setiap aspeknya berikut ini.

1. AGE atau USIA: MPASI diberikan pada saat yg tepat, yaitu usia 6 bulan. Jika MPASI diberikan sebelum usia 6 bulan resikonya antara lain adalah sebagai berikut:

Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan besar dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun bayi kurang dari 6 bulan belum sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman, apalagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan MPASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI Eksklusif.

Menyulitkan ibu mempertahankan produksi ASI karena bayi yang sudah mendapatkan MPASI biasanya akan berkurang kebutuhan menyusunya

Saat bayi berumur 6 bulan keatas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima MPASI. Beberapa enzim pemecah protein seperti asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bulan.

Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan. Saat bayi berumur kurang dari 6 bulan, sel-sel di sekitar usus belum siap untuk kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.

Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan akan mencegah potensi obesitas pada anak

Menunda pemberian MPASI hingga 6 bulan melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan sari-sari makanan yg belum sempurna. Pada beberapa kasus yg ekstrim ada juga yg perlu tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur 6 bulan

 Kalau MPASI diberikan terlambat resikonya: bayi tidak mendapat cukup nutrisi untuk pertumbuhan, tumbuh kembang lebih lambat lambat, malnutrisi dan defisiensi gizi seperti zat besi.

2. FREQUENCY atau FREKUENSI: Perhatikan frekuensi pemberian MPASI. Di awal mulai makan (umur 6 bulan),1-2 kali makan /hari. Lalu ditambah jadi 2-3 kali makan plus 1-2 kali makanan ringan. Sejak umur 9 bulan berikan 3 kali makan dan 2 kali selingan makanan ringan. Umur 1 tahun ke atas, berikan 3-4 kali makan dan 2 kali selingan.

3. AMOUNT atau JUMLAH: Jumlah makanan tentu harus diperhatikan. Saat baru mulai makan, mulai dgn sesuai selera bayi, lalu tingkatkan secara bertahap.Umur 6 bulan mulai dengan 2-3 sendok makan setiap kali makan. Perhatikan petunjuk yang diberikan bayi Anda untuk tahu kapan harus menurunkan atau meningkatkan porsi. Tingkatkan secara bertahap sampai setengah mangkok ukuran 250 ml utk usia 6-9 bulan. Setelah umur 1 tahun, porsi rata-rata 1 mangkok ukuran 250 ml.

4. TEXTURE atau TEKSTUR: Tekstur makanan sangat penting. Anak yang sedang dalam tahap MPASI berarti sedang belajar makan, maka kenaikan tekstur harus dilakukan bertahap hingga mampu makan makanan keluarga. Tahapan tekstur ini jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat pula.. Waktu mulai makan umur 6 bulan, berikan bubur kental atau puree. Jangan terlalu encer atau terlalu kental. Patokannya jika diletakkan di sendok, sendoknya dimiringkan, puree atau bubur itu tidak langsung tumpah. Setelah mulai makan beberapa minggu, sampai umur 9 bulan berikan bubur yang lebih kental atau bubur saring. Mulai umur 9 bulan sudah bisa diberikan makanan cincang halus, yang penting tidak keras, dan mudah dijumput anak. Umur 1 tahun, anak sudah bisa makan makanan keluarga. Cincang jika perlu bagian-bagian yang sulit dikunyah seperti daging sapi.

5. VARIETY atau KERAGAMAN. Keberagaman makanan adalah kunci gizi seimbang. Karena tidak ada satu pun bahan makanan yang mengandung semua gizi. MPASI boleh dimulai dgn bubur serealia atau puree buah, terserah mana yang ibu pilih. Yang penting, secepatnya kenalkan bahan makanan yg bervariasi. Ingat bahwa kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat terus, sedangkan cadangan zat besi menurun drastis di usia 6 bulan. Jadi, sejak umur 6 bulan mulai kenalkan semua variasi makanan: pangan pokok (serealia, ubi-ubian), buah dan sayuran, kacang-kacangan, dan sumber hewani. Jadi, variasi sama di semua umur alias sevariatif mungkin, yang berubah cuma tekstur, jumlah, dan frekuensi yang meningkat.

 6.ACTIVE/RESPONSIVE atau AKTIF/RESPONSIF: Pemberian makan secara aktif dan responsif terhadap bayi/anak. Tidak ada lagi acara menghidupkan TV atau jalan keliling kompleks agar anak mau makan. Respon anak dengan senyum, jaga eye contact, jangan lupa berikan kata-kata positif yg menyemangati. Suapi pelan-pelan, sabar, ceria, penuh humor. Bisa juga dengan memberi makanan yang bisa dia pegang (seukuran jari, lunak) jadi dia akan ikut makan sendiri. Jangan ada distraction, agar iar anak tetap tertarik sama makanannya. Boleh dipangku kalau dia merasa lebih nyaman, tapi jangan digendong jalan-jalan.

7. HYGIENE atau HIGIENIS. Pastikan makanan bebas patogen. Jangan lupa cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan (untuk ibu juga harus mencuci tangan sebelum mempersiapkan makanan), pilih makanan yang segar, simpan dan masak dengan baik. Pastikan juga MPASI bebas toksin/racun, tidak ada bahan kimia berbahaya, tidak ada bagian tulang keras yang bisa membuat bayi tersedak dan tidak diberikan dalam keadaan terlalu panas.

 Sedangkan mengenai pemberian MPASI Food Combining bisa di baca di sini.

Iklan

7 Tanggapan to “MPASI: Food Combining Atau Metode WHO”

  1. Endah Nurwahyuni Uniq 20 Mei 2014 pada 09.52 #

    Hallo bunda nafazayan…makasih sharingnya yaa… informatif bgt.
    tulisan ini cocok banget sama keadaanku sekarang.. ditengah-tengah para bunda yang lebih senang dengan mpasi instan, sementara untuk membuat mpasi rumahanpun masih ditantang untuk memberikan bahan makanan apa yang terbaik untuk buah hati. Kanaya sudah 9 hari mpasi. awalnya kucoba adopsi metodenya FC, pilihanku jatuh pada jeruk. hanya dua suapan sudah tet tooot. mingkem. besoknya kuganti pepaya, Alhamdulillah mau, tp sedikit. okelah lanjut hingga tiga hari. hari kelima pisang. oh tidak,, muntah. rasanya mau nangis lihat Kanaya muntah krn menjelang haid ini produksi ASIku menurun :(.. hari ke enam kucampur pisang + gasol BMW olalaaa… kanaya senangg.. lanjuut. hari ke delapan mulai kuperkenalkan apokad. mingkem. kucampur BMW lagi ALhamdulillah. hingga sampai pada satu kesimpulan bahwa selera makan Kanaya adalah : encer, rasa tak terlalu kuat dan bertekstur. jika dilihat – lihat komposisinya adalah anjuran WHO dan FC sekaligus :D… kanaya memang adil. hmm sebenarnya pernah kuberikan gasol BC, lahapnya bukan main.. tp tetap sugestiku gasol saja masih kurang lengkap gizinya, makanya tetap kucampur buah. Bismillah, besok Kanaya mencoba sayur.. atau sayur + gasol hehehe… tetap pada selera Kanaya. yang penting bunda mencoba memberikan yang terbaik..

    • Bunda Nafazayan 20 Mei 2014 pada 16.33 #

      Terima Kasih sudah berkunjung..
      Salut buat usaha Bunda memberikan yang terbaik untuk sang buah hati Kanaya..ditengah maraknya peredaran makanan instan untuk bayi..
      Salam untuk Kanaya..dari Kenzie..

  2. endah tyas 14 Juli 2014 pada 01.38 #

    Izin share ya bunda… sangat informatif. Makasih banyak udah bagi2 ilmunya.

  3. Subhan Fathah 28 Oktober 2014 pada 11.34 #

    ijin share yaa… enak bgt nih dibaca penjelasannya

Trackbacks/Pingbacks

  1. Panduan MPASI Food Combining | Catatan Bunda - 3 Januari 2014

    […] aku sendiri memilih menggunakan panduan WHO dalam memberikan MPASI, tapi tak ada salahnya aku posting juga mengenai Panduan MPASI Food […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: