Working Mom Atau Full Time Mother

10 Des

Dalam hidup kita akan berhadapan dengan pilihan-pilihan beserta konsekuensi nya. Kadang-kadang pilihan – pilihan tersebut juga menimbulkan pro dan kontra. Seperti dalam dunia per “ibu – ibu“-an, masalah yang menimbulkan pro dan kontra masih di dominasi seputar ASI VS Sufor, Pro Vaksin VS Anti Vaksin, Working Mom VS Full Time Mother, MPASI Instant VS Homemade. Masing-masing tentu memiliki pilihan dengan berbagai pertimbangan. Adalah sesuatu yang wajar ketika ada perbedaan. Bagi yang memiliki pilihan berbeda tak perlu nyiyir ataupun mencela terhadap pilihan lainnya.

Di sini saya tidak akan membahas semua masalah pro dan kontra tersebut. Saya hanya ingin sedikit bercerita mengenai keputusan saya beberapa waktu yang lalu yaitu keputusan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga full di rumah. Bagi kebanyakan orang khususnya teman mungkin mengira bahwa ini keputusan yang mendadak dan terburu-buru. Yah, sebuah anggapan yang wajar. Orang-orang pasti berfikir, apa si yang akan kau cari, sudah enak – enak menjadi PNS dengan penghasilan tetap? Betapa banyak orang diluar sana yang mengidam-idamkan profesi PNS, sehingga tiap kali dibuka formasi PNS, begitu banyak peminatnya? Di mana rasa syukur itu. Tahukah kamu betapa sulitnya jaman sekarang memperoleh pekerjaan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain seandainya saya mengungkapkan niat tersebut jauh sebelum hari.

Padahal tidak demikian adanya, karena sebenarnya sudah lama saya berniat, hanya belum ada keberanian. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya di akhir tahun ini saya memberanikan diri untuk keluar dari pekerjaan. Saya menyadari bahwa ini bukan keputusan yang mudah, dan sayapun sadar resikonya. Sebagai makhluk individu maupun sosial, semua orang tentu mempunyai kebutuhan baik yang bersifat materi / fisik maupun non materi. Jika saat masih bekerja saya masih dapat memprediksi berapa penghasilan dan belanja tiap bulan,setelah tak bekerja tentu saja keadaan akan berbeda. Saya harus siap dengan berapapun yang suami berikan dan mengatur dengan baik.

Selain kebutuhan akan materi kita juga memiliki kebutuhan non materi yang salah satunya adalah kebutuhan akan aktualisasi diri, kebutuhan agar tetap eksis. Dulu saya bekerja salah satunya untuk memenuhi akan kebutuhan tersebut. Dengan bekerja kemampuan kita akan berkembang seiring dengan meningkatnya tantangan pekerjaan. Bagaimana nanti ketika aku berhenti bekerja? Apakah tidak akan mengalami “bornout“?

Itu semua adalah kekhawatiran-kekhawatiran yang pasti terlintas bagi sebagian orang-orang dan saya pun pernah berfikir demikian. Namun kenapa pada akhirnya saya tetap memilih untuk resign ? Jawabnya adalah bahwa tidak semua kekhawatiran-kekhawatiran tersebut disikapi dengan ketakutan secara berlebihan.

Pertama, masalah finansial.

Memang, aku bekerja untuk membantu suami mencari nafkah, memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Tapi bagaimana dengan kebutuhan lain? Kebutuhan akan kasih sayang, perhatian dan lain-lain. Saya tahu bahwa tidak semua wanita karir lebih buruk dari ibu rumah tangga dalam urusan mengurus rumah tangga. Mungkin ada juga ibu rumah tangga yang meskipun banyak kesempatan bersama anak-anak namun lebih disibukkan dengan gatget, bergossip, sinetron dan lain-lain hingga mengabaikan anak-ankanya. Tapi setidaknya, dengan menjadi ibu rumah tangga full, kesempatan untuk mengurus keluarga dengan sebaik-baiknya lebih terbuka lebar. Delapan belas tahun menjadi “Working Mom “, secara finansial memang ada keuntungan tersendiri, namun jujur secara batiniah terasa ada sesuatu yang hilang. Waktu, kebersamaan? Di lain sisi, sebagai ibu rumah tangga yang sekaligus bekerja, saya juga merasa bersalah, merasa tak tenang ketika harus meninggalkan anak-anak terlalu lama. Meskipun segala sesuatu perlu uang, tapi uang bukan segala-galanya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa semua itu bisa diatasi dengan manajemen waktu yang baik. Saya pun berusaha untuk belajar dan belajar dari orang-orang yang menurut penilaian orang-orang “sukses “ berkarir maupun dalam keluarga. Mempelajari bagaimana sih, formula pembagian waktunya? Nyatanya, saya sudah berusaha untuk mengaplikasikan teori ini dan itu, namun bagiku sendiri bukan hal yang mudah. Hingga akhirnya saya mengambil suatu kesimpulan sendiri, bahwa memang bagi sebagian orang, teori-teori manajemen waktu itu memang cocok, nyatanya banyak ibu-ibu di luar sana bisa sukses dalam karir maupun keluarga ( sukses di sini adalah sukses menurut pandangan umum, karena setiap orang punya pendapat sendiri dalem mengartikan sebuah kesuksesan). Saya mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan semua itu bukan karena teori-teori itu yang salah, mungkin saja ada sebagian yang cocok untuk diterapkan, tapi ada sebagian yang memang kurang pas, karena setiap keluarga tentu mempunyai latar belakang kondisi yang berbeda beda, entah dilihat dari segi ekonomi, jumlah anak, sampai dengan karakter masing masing anak sendiri. Karena saya tak bisa menjadi ibu hebat seperti di luar sana yang bisa bisa bekerja dan mengurus keluarga, maka kuputuskan untuk fokus pada salah satunya yaitu anak-anak dan keluarga. Masalah finansial adalah tugas utama suami, dan saya yakin pada Tuhan, dengan bahwa dengan ikhtiar dan doa, Dia pasti akan mencukupkan rezki pada hambanya. Dan tentu saja saya juga tetap berniat membantu suami jika kami rasa belum mencukupi, tapi tentu saja fokus tetap pada keluarga.

Kedua, mengenai kebutuhan non materi.

Salah satu kebutuhan non materi adalah kebutuhan aktualisasi diri, diakui keberadaannya, dihargai atau kebutuhan untuk tetap eksis. Profesi Ibu rumah tangga seringkali membuat seseorang merasa minder, merasa kurang dianggap, dan bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Faktanya, ketika ada acara reuni masih ada saja yang tak datang dengan alasan, minder karena berprofesi ibu rumah tangga, sedangkan teman-teman lain wanita karir. Heloow…Ini jaman tekhnologi internet sudah maju bro. Kesempatan untuk mengasah minat dan bakat terbuka lebar. Ibu-ibu di rumah juga tetap berkesempatan untuk mengembangkan diri, bersosialisasi bahkan tetap bisa bermanfaat dan berbagi dengan orang lain. Dengan usaha serius, sudah banyak pula ibu rumah tangga sekarang yang mampu mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah. Itu jika ingin tetap membantu suami, namun jika suami sudah mencukupi, berfokus mengurus anak-anak juga cukup mengasikkan, dan ternyata seni mendidik anak itu bukan ilmu yang sepele, tapi banyak ilmu yang bisa kita eksplorasi , apalagi jika kita tulus menjalani.

Menjadi ibu rumah tangga adalah panggilan jiwaku, Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan para ibu bekerja, mengutip kata-kata “ Gaby Sarah “ seorang blogger dalam satu tulisannya :

“ Perempuan modern berani mengambil keputusan untuk dirinya

sendiri dan menghormati pilihan perempuan lainnya yang berbeda “

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: