Ketika “Berbeda” Menjadi Sebuah Pilihan

3 Apr

foto : dreamstime.com

foto : dreamstime.com

Dalam hidup kita kan dihadapkan pada banyak pilihan. meski setiap manusia bebas menentukan pilihan, namun setiap pilihan mempunyai konsekwensi tersendiri. Pun demikian dalam pengurusan anak-anak. Terkadang memilih sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang, seperli keluar dari sebuah zona nyaman. Dengan memiih berbeda dengan kebanyakan orang, berarti memilih menjadi “minoritas”, dan menjadi sesuatu yang minoritas bukanlah hal yang mudah.

Hal ini pernah dan tengah kami alami. Dalam beberapa hal kami memlilih hal yang berbeda dengan kebanyakan orang, yaitu :Pertama : Dalam hal tanggung jawab pendidikan anak-anak. Pada umumnya orang tua menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak-anaknya pada sekolah atau sebuah lembaga. Dalam hal ini kami mengambil penuh akan  tanggung jawab mendidik anak-anak kami sendiri. Bagi kami sekolah atau tidak sekolah hanyaah sebuah pilihan yang intinya bahwa intinya bahwa dimanapun yang penting belajar. Karena belajar tidak hanya bisa diakukan dalam sebuah gedung sekolah, bahkan alam semesta ini pada dasarnya sumber ilmu yang luar biasa. Sungguh ketika kami memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anak kami, bukan karena kami merasa lebih pintar dari guru-guru yang ada di sekolah, terutama dalam hal pendidikan akademis. Kalau paling tulus mencintai anak-anak jelas ya.

“Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas. | Ki Hadjar Dewantara |

Kami juga yakin, bahwa tugas kami bukanlah menjejalkan berbagai macam pengetahuan kepada anak. Karena pada dasarnya setiap anak yang lahir telah membawa potensi masing-masing dalam dirinya. Berdasarkan keyakinan tersebut kami memberanikan diri untuk tidak menyekolahkan anak-anak kami , dan mencoba untuk belajar bersama-sama. Menurut Naomi Aldort, Mendidik anak-anak adalah mendidik diri sendiri.

Tantangan pertama yang harus kami hadapi atas keputusan yang telah kami buat adalah menghadapi reaksi keluarga, famili maupun masyarakat sekitar. Terutama dari keluarga yang kebanyakan menentang karena kekhawatiran mereka terhadap masa depan anak-anak kami. Hal tersebut memang cukup wajar, bicara masa depan tentulah erat kaitannya dengan sebuah kesuksesan,dan bicara kesuksesan banyak yang mengkaitkan dengan banyaknya harta, ketenaran maupun kedudukan. Tiap orang memang berbeda-beda dalam mengartikan sebuah kesuksesan. Walaupun ketiga hal tersebut penting, lantas bukan berarti dijadikan sebuah tujuan . Akan lebih baik jika harta, ketenaran dan kesuksesan dijadikan sebagai sarana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Menyikapi ketidaksetujuan keluarga, atau mungkin komentar miring , hingga pertanyaan dari lingkungan sekitar , pada awalnya merupakan beban tersendiri bagiku. Sampai akhirnya kami menyadari semua itu bisa jadi wujud kepedulian dan keingintahuan mereka. Dan manakala ada perbedaan pendapat, memaksakan orang lain untuk mengakui bahwa pendapat kami paling benar bukanlah sebuah cara yang bijak. Akan lebih baik memberikan senyum simpul, karena sekali lagi ini hanyalah tentang sebuah pilihan. Dan dalam hal berbeda pilihan tersebuat masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan.

Keledai,

Kedua : Dalam hal pemberian imunisasi. Lagi-lagi ini juga tentang sebuah pilihan. Orangtua yang memilih memberikan imunisasi atau tidak memberikan imunisasi masing-masing punya alasan. Walaupun dengan alasan yang berbeda, namun keduanya sama-sama mempunyai alasan, demi kebaikan untuk anak-anak. Yang memilih memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka, bisa jadi karena mereka lebih meyakini akan manfaat imunisasi dibandingkan dengan kerugiannya, meski tak menutup kemungkinan hanya sekedar ikut-ikutan atau manut dengan program yang telah dicanangkan pemerintah. Sedangkan kami sendiri, tanpa bermaksud menentang apa yang sudah dicanangkan pemerintah,  memilih tidak memberikan imunisasi kepada anak-anak kami karena lebih meyakini kerugianya daripada manfaatnya.Seperti halnya dalam menyikapi program KB, meski pemerintah menganjurkan dua anak cukup, namun pilihan tetap berada masing-masing keluarga.

Menyikapi perbedaaan tersebut, bagi kami  yang terpenting adalah tetap menghargai pilihan masing-masing tanpa memaksakan orang lain untuk mempunyai keyakinan yang sama dengan kami, tidak lantas men”judge” bahwa orang lain , apalagi  memaksakan orang lain untuk mengikuti apa yang kami lakukan . Berbeda pilihan dengan orang lain tidak menjadi masalah, yang penting ketika memutuskan untuk berbeda dengan orang lain kita tahu alasan dan ilmunya.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra:36)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: