Untukmu Yang Sedang Menantikan Kehadiran Sang Buah Hati

15 Mar

Family

Salah satu tujuan dari pernikahan adalah melanjutkan keturunan. Sehingga wajar, setiap pasangan yang baru menikah ingin segera mendapat momongan. Meskipun sebagian mungkin lebih memilih menunda untuk memilikinya. Namun secara umum, kelahiran  anak selalu dinantikan oleh pasangan suami istri yang baru menikah. Kehadiran anak memang luar biasa, kelahiran mereka ke dunia mampu merubah seluruh konstelasi kehidupan. Prioritas hidup, visi masa depan sifat dan perilaku orang tua bisa berubah. Kehadiran mereka juga membuat suasana keluarga menjadi semarak. Maka, wajarlah jika kehadiran mereka kerap dinantikan. Kenyataannya, tidak semua pasangan di beri kesempatan yang sama cepatnya. Ada kalanya begitu menikah , langsung hamil, ada kalanya harus menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mendapatkan amanahNya.

Bagi yang diberikan kepercayaan lebih cepat, hal itu patut disyukuri. Namun bagi yang tidak, tetap disyukuri. Ambil sisi positifnya. Bisa jadi Tuhan tengah memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, karena menjadi orang tua itu tak mudah. Jika sekedar hamil dan melahirkan memang gampang. Namun tugas orang tua bukanlah sekedar melahirkan.

Kita mungkin sering membaca berita di media, bagaimana orang tua yang tega menganiaya anak-anaknya. Benar-benar membuat miris. Mengapa sampai terjadi demikian ? Menurut Psikolog Kerry Frost dalam bukunya ” What Kind Of Child Are Bringing Up “, menjelaskan berbagai alasan mengapa orang tua berbuat brutal, diantaranya karena orang tua masih menyimpan akar pahit trauma dan dendam masa kecilnya,sebagian karena stress atau manic depression, karena memikirkan masalah ekonomi.

Menurut Charlotte Mason , profesi orang tua adalah paling penting di dunia, sehingga setidaknya  setiap orang tua wajib menguasai dasar-dasar fisiologi dan psikologi sebagai bekal minimal mengasuh anak.

Bagaimana menjalani kehamilan yang sehat, bagaimana menyediakan standar emas makanan untuk bayi termasuk bagaiman agar bisa memberikan ASI, bagaimana mencukupi kebutuhan fisik nya, pengetahuan fisik inilah yang akan memfasilitasi anak berumbuh kembang optimal.

Bagaimana merespon tangisan anak, bagaimana menghadapi perilaku agresif anak, bagaimana membantu anak mengelola emosi-emosi negatif semisal marah, sedih, benci tanpa sikap merusak, inilah pengetahuan psikologi yang akan mencegah orang tua frustasi dan jiwa anak juga berkembang sehat.

Pengalamanku sendiri, dulu aku menikah tidak mempunyai bekal pengetahuan fisiologis dan psikologis yang cukup. Anak pertama hingga keempat tidak mendapatkan ASI Ekslusif. Memberikan MPASI juga seadanya. Aku hanya mengandalkan insting maupun pengetahuan yang aku dapatkan dari orang lain, tanpa tahu ilmunya.Akupun mudah cemas, ketika anak sakit. Sedikit-sedikit kasih obat. Hal itu karena kurangnya pengetahuan fisiologis.Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit akau mulai belajar , baik dari pengalaman maupun melalui buku-buku dan internet. Sedikit demi sedikit mmencoba untuk mengaplikasikan.

Aku juga gampang marah dan tidak sabaran ketika menghadapi perilaku anak-anak yang tengah emosi. Banyak sekali tindakan-tindakan yang  belakangan aku ketahui bahwa itu tidak baik bagi perkembangan mental anak. Disinilah pentingnya pengetahuan psikologis.

Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Oeh karena itu, pengalaman dari orang lain pun bisa kita ambil hikmahnya. Aku memiliki seorang teman yang anaknya memiliki suatu keterlambatan perkembangan. Tanpa bermaksud menyalahkan, keterlambatan itu baru diketahui setelah anak berusia dua tahun. Kebetulan anak tersebut anak pertama. Andai itu terjadi padaku , mungkin kejadiannya juga akan sama , baru terdeteksi disaat nak berusia dua tahun. Karena umumnya, ibu baru ( new mom ) biasanya tak mengetahui banyak hal tentang perkembangan anak-anak. Disinilah , pelajaran yang bisa kita ambil, bahwa pengetahuan itu penting. Kita andaikan saja, orang tua sudah mengetahui, katakanlah semacam cek list perkembangan anak usia sekian harus bisa apa, bagaimana jika usia sekian ternyata tidak bisa ini atau itu, mungkin akan lebih cepat diketahui dan segera diambil langkah secepat mungkin.

Memang benar , bahwa tidak semua masalah atau penyakit bisa terlihat secara kasat mata, namun dengan berusaha memili bekal pengetahuan itulah wujud dari usaha kita.

Oleh karena itulah, bagi pasangan yang sudah dikaruniai anak, terus berdayakan diri sebagai wujud syukur atas amanah yang sudah diberikan olehNya. Tak perlu jadi orang tua yang sempurna, tapi jadilah ayah-bunda yang mencintai anak-anak tanpa syarat dan mau terus beajar bersama mereka. Menurut konselor parenting Naomi Aldort pada hakekatnya mendidik anak adalah mendidik diri sendiri , Raising children , raising ourself.

Sedangkan untuk pasangan yang sedang menunggu kehadiran buah hati, tetaplah  berihtiar dengan tetap menjaga pola hidup sehat , konsultasi ke dokter dan berdoa, jangan lupa pula,  pengetahuan fisiologi dan psikologi sebagai bekal untuk mendidik anak-anakmu kelak.

Referensi : Cinta Yang Berfikir , Ellen Kristi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: