Bijak Memilih Teman Curhat

17 Agu
CURHAT

gambar ilustrasi : dreamstime.com

 

Setiap manusia pasti tak lepas dari masalah. Pun dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Masalah-masalah yang tak kunjung terselesaikan lama-lama akan terakumulasi yang kadang kadang cukup membuat sesak di dada. Butuh tempat untuk menumpahkan segala unek-unek yang ada di kepala. Lantas kepada siapa akan dicurahkan semua itu ? Apakah sahabat, keluarga, ataukah sosial media seperti Facebook, Twitter, BBM dan lain-lain yang begitu perhatian , sampai-sampai setiap kita buka selalu menanyakan ” Apa yang sedang Anda fikirkan ?” Dan sepertinya kebanyakan yang suka curhat di sosial media adalah wanita. Mungkin bukan hanya di sosial media, di dalam kehidupan nyata pun demikian. Bisa jadi karena perasaan wanita lebih sensitif.

Untuk masalah masalah yang ringan tak ada salahnya, sesekali curcol di sosial media. Tapi jika masalah yang cukup serius apalagi menyangkut keutuhan rumah tangga rasanya tak bijak kalau sampai koar-koar di sosial media yang bisa diakses ratusan bahkan ribuan orang. Alih-alih menyelesaikan masalah, justru membuka aib rumah tangga dan membuat masalah baru.  Ketika curhat di sosial media tidak dijadikan sebuah pilihan, kepada siapa seharusnya ?

Tak ada salahnya menceritakan masalah kepada seseorang, entah itu sahabat atau keluarga . Namun sebelum memutuskan untuk menceritakan masalah rumah tangga dengan orang ketiga, ada baiknya membicarakan masalah dengan pasangan sendiri, karena pada dasarnya yang tahu persis masalah yang terjadi di antara pasangan adalah mereka sendiri. Biasanya yang menyebabkan salah satu pasangan menceritakan masalah pada orang lain adalah adanya ketidakpuasan salah satu pasangan. Untuk itu benar benar diperlukan komunikasi yang baik, sehingga masing masing memahami, sebenarnya apa yang diinginkan masing-masing.

Sebelum memutuskan untuk menceritakan masalah pada orang ketiga, ada beberapa pertimbangan yang perlu difikirkan:

  • Pertama, menceritakan masalah pada orang lain mempunyai beresiko membuka aib,  menambah masalah, apabila ternyata orang yang kita ajak bicara tidak obyektif dan tidak memberikan pandangan yang tepat.  Kadang-kadang bukan menjernihkan masalah tapi justru memperkeruh suasana. Alih alih mendinginkan kepala justru malah “ngompor-ngompori “. Ingat kembali apa tujuan menceritakan masalah apakah hanya ingin melampiaskan masalah, mencari pembenaran  atau mencari solusi.
  • Kedua, membuat perasaan tak nyaman, malu , apabila pasangan mengetahui bahwa dirinya dibicarakan dengan orang lain, apalagi kalau yang diceritakan masalah yang sangat pribadi.
  • Ketiga, hanya akan menyebarluaskan masalah apabila ternyata orang yang kita anggap percaya ternyata tidak menjaga rahasia .
  • Seringkali karena berawal dari curhat justru menjadi awal dari perselingkuhan ( Terutama jika curhat kepada lawan jenis )

Jika upaya upaya menyelesaikan masalah dengan pasangan sendiri sudah dilakukan, namun ternyata tak memberikan hasil, barulah kita ceritakan pada orang lain, karena bisa jadi memang perlu penengah  yang mampu besikap obyektif, bijaksana dan memang benar-benar bisa dipercaya.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: