Dilema Ibu Bekerja

17 Mei

Ketika masih remaja dulu aku membayangkan, kayaknya seneeng kalau udah gedhe nanti bisa kerja di kantoran . Dan ternyata emang bener kesampaian , sekarang aku menyandang status ibu bekerja, istilah kerennya ” working mom ” gitu lohh..Keliatannya keren yah..Padahal ya biasa-biasa ajah…Cuma setap ( baca “staff “) atau bahasa gaulnya blekethiran….Aaah..sudahah ini bukan mau bahas setaf atau blekethir… Lah..mungkin prolognya aja yang nggak nyambung sama judulnya..Oke-oke..Aku cuma mau curhat aja kok..Sesuai judulnya ” Dilema Ibu Bekerja” Dari Judulnya aja pasti pembaca udah bisa membayangkan..#yang  membayangkan juga sapa ???…Dilema, tentu semua tahu ya, kecuali emang yang tidak tahu..Itu loh..Nama buah yang  berwarna merah..Hush..itu kan Delima ?? Iya ..Dilema itu ya tentunya suatu keadaan yang tidak menyenangkan, suatu posisi yang serba sulit…Sedangkan Ibu bekerja yang dimaksud disini adalah yang bekerja pada seseorang/lembaga atau apapun istilahnya ( dengan kata lain “mBuruh ) Baik itu karyawan swasta ataupun PNS.# Halah ini tulisan kok kok jadi nggak jelas ya??  Habis bingung mau ngetik apaa.. Sebenarnya tulisan ini terinpirasi dari status-status BBM seorang temen ..Saking seringnya bikin status dengan #hash tag dilema ibu bekerja.

Kalau dibandingkan dengan temen aku sesama ibu bekerja memang masalah yang dihadapi hampir sama seperti waktu aku masih ngontrak dan jauh dari saudara /ortu .  Nggak jauh-jauh dari urusan seputar anak dan ART. Dan dilema itu akan benar benar dialami ketika

1. Anak sakit.

Sungguh suatu posisi yang sulit, ketika anak sakit. Anak sakit sangat membutuhkan perhatian dari emaknya, disisi lain emak juga punya kewajiban sebagai sebagai seorang karyawan ataupun abdi negara. Memang ada jatah cuti tahunan, namun , siapa si yang tahu kapan anak akan sakit. Sedangkan cuti tahunan harus diajukan jauh-jauh hari sebelum diambil. Mau ijin juga nggak enak sama teman ataupun atasan, apalagi kalau terlalu sering. Untunglah sekarang suami sering di rumah dan sejak tinggal dekat dengan ortu dan saudara, masalah tersebut teratasi.

2. Assisten Rumah Tangga ( ART ) ijin/mangkir.

Ini juga menjadi masalah yang cukup krusial. apalagi kalau anak masih balita dan memerlukan pengawasan dan penjagaan . Sementara tidak  saudara atau keluarga dekat yang bisa diminta bantuan. Bawa anak ke tempat kerja juga tidak nyaman, belum tentu juga semua kantor tempat bekerja mengijinkan karyawan untuk bawa anak.

3. To be continoued..

#mencobamenulisdengangayaberbeda#tulisangeje

Iklan

3 Tanggapan to “Dilema Ibu Bekerja”

  1. momibi 18 Mei 2014 pada 20.51 #

    Sori ikut nimbrung Jeung… Sy jg ibu bekerja. Prinsip sy skrg berusaha pindah krj ke lokasi terdekat dr rmh spy ga brgkt kepagian plg kemaleman. Trus kalopun someday hrs resign krn anak ya ga masalah

  2. Bunda Nafazayan 18 Mei 2014 pada 21.40 #

    Terimakasih sudah mau nimbrung , Ia Alhamdulillah tempat kerja saya deket, jam kerja juga tidak sampai malam.

  3. suria riza 18 Mei 2014 pada 23.58 #

    Sabar
    tiap pilihan ada rulesnya sendiri…yg penting kita sudah berusaha yg terbaik ^^
    salam kenal ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: