Kagalauan Seorang Emak

14 Mar

Children

Ahir-ahir ini di media cetak maupun online digemparkan dengan berita tentang kasus pembunuhan terhadap Ade Sara , seorang remaja yang dilakukan oleh mantan kekasih dan pacar barunya  yang  masih berusia belasan tahun. Dan belum reda pemberitaan mengenai kasus itu, hari ini  muncul lagi  kasus baru , dan lagi -lagi korban dan pelakunya adalah ABG.  Benar-benar miris membacanya. Nyawa seperti tak ada harganya. Dan itu hanyalah salah satu berita yang kini tengah marak disamping berita-berita lain yang tak kalah membut dahi kita berkernyit. Tiap hari ada saja berita-berita mengenai kekerasan, pembunuhan, anak hilang dan penculikan . Sebagai ibu dari lima oranga anak, tentu saja ada perasaan khawatir dan was-was. Bagaimana anak-anak nanti menghadapi dunia yang semakin keras. Memang semua itu terjadi nan jauh disana, tapi bukan berarti tak ada bahaya yang sewaktu-waktu mengincar . Nyatanya, pelaku kejahatan seringkali orang yang dikenal dekat dengan korban . Duniapun kini  semakin terasa sempit. Kemajuan tehnologi yang berkembang pesat membuat dunia ini seakan-akan tak berbatas. Begitu besar tantangan  dan tugas orang tua sekarang dalam mendidik anak-anak .

Dan bagi kami sendiri, berita-berita kriminal tersebut seperti sebuah peringatan bagi kami, agar kami lebih berhati-hati,  dan harus mampu membentengi anak-anak kami jangan sampai terjebak dalam pergulan bebas dan semacamnya.  Diperlukan cara-cara yang benar-benar pas, tidak over protektif tapi juga jangan terlalu membiarkan. Terlalu protektif terhadap anak juga tidak baik, alih alih anak bisa mandiri, justru anak semakin manja,  Dan untuk bisa mendidik anak -anak secara benar, kami terus burusaha belajar dan mangaplikasikan , bagaimana melakukan pendekatan-pendekatan, bagaimana melakukan pembiasaan pembiasaan yang baik untuk anak-anak kami.

Sungguh berat tantangan mendidik anak generasi Z ini.  Mau mencari-cari kesalahan pemerintah, lingkungan juga tidak menyelesaikan masalah. Sebagai usaha untuk melindungi anak-anak kami dari pengaruh-pengaruh negatif seperti pornografi, kekerasan dan semacamnya  , kami bertekad untuk melakukan upaya-upaya sebagai berikut.

  •  Kami akan lebih selektif dalam memilih tayangan  acara  Televisi. Selain selektif memilih tontonan, itu sedikit demi sedikit kami juga akan mengurangi durasinya. Karena banyak sekali tayangan-tayangan semacam sinetron yang sama sekali tak mendidik, takutnya akan berpengaruh pada perilaku anak-anak kami. Disamping masalah konten, menonton TV juga merampas waktu yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal lain, misal bermain ( fisik ), mengurangi minat baca, dll. Pokoknya banyak dampak negatif dari menonton TV, informasi lengkapnya bisa dibaca di sini, di sini, dan di sini juga
  • Berusaha lebih dekat lagi dengan anak-anak. Agar anak-anak lebih terbuka kepada kami, sehingga kamipun tahu setiap ada persoalan-persoalan sekecil apapun. Kami ingin agar kebersamaan kami yang terbatas menjadi kebersamaan yang lebih berkualitas,salah satunya dengan mengurangi penggunaan gatget saat anak-anak di rumah. Jujur, aku secara pribadi masih sering menemani anak-anak sambil online , pegang HP. Walapun secara fisik dekat, tapi secara emosional mungkin terasa jauh, karena perhatian otomatis akan terbagi.
  • Membatasi dan mengawasi anak-anak saat berselancar di dunia maya. Dulu karena kelalaian, aku memang sempat kecolongan, ketika tanpa sengaja anak-anak melihat sesuatu yang seharusnya tak pantas untuk anak-anak. Waktu kami tak ada di rumah memang anak-anak aku sediakan modem dan paket internet, dengan tujuan untuk belajar.  Awalnya kalau aku lihat memang aman-aman saja, tapi justru inilah yang membuat aku lalai dan akhirya lama tak kulihat, ternyata ada sesuatu yang seharusnya tak boleh dilihat anak-anak. Sekarang ketika salah satu dari kami, tak ada dirumah anak-anak tak kami ijinkan untuk internetan.
  • Menanamkan kejujuran. Bagi kami ini sangat penting namun tidak mudah kami lakukan. Mungkin karena pola asuh yang salah yang pernah aku lakukan . Dulu akau memang gampang sekali menjudge ketika anak melakukan kesalahan, sehingga anak jadi takut. Bagaimana kami bisa tahu apa dan bagaimana yang terjadi pada anak-anak kami jika mereka masih suka menyembunyikan sesuatu.
  • Membekali anak-anak dengan pemahaman -pemahaman yang benar. Dari masalah Ketuhanan, pendidikan sex, cara bergaul, memilih teman . Intinya agar anak menemukan jatidirinya.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: