Ketika Harus Berhenti Kuliah

24 Nov

Working mom

Seandainya dulu aku tidak berhenti kuliah mungkin saat ini aku sedang menyelesaikan skripsi, atau bisa juga sudah di wisuda. Apakah aku menyesal ? Jawabannya ” Ya, seandainya pertanyaan itu aku jawab ditahun 2010 / 2011. Akhir Tahun 2009 hingga awal 2010, aku sempat mengeyam bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.  Pada saat itu aku masih begitu labil. Sebenarnya keinginan untuk kuliah dan berhenti kuliahpun  datang dari diri sendiri.  Suami kurang mendukung, dengan alasan kasihan anak-anak. Tapi akupun beralasan bahwa aku kuliah ingin cari ilmu, agar aku bisa menyelesaikan tugas-tugas di kantor dengan mudah, lagian sayang kalau nggak kuliah , cuma lulusan SLTA, kalau kuliah kan bisa buat penyesuaian golongan. Toh kuliahnya nggak tiap hari, paling tiga empat hari dalam seminggu. Dengan sedikit paksaan akhirnya aku  diijinkan juga.

Waktu itu baru memiliki tiga anak. Paling kecil baru berusia tiga tahunan. Awalnya kupikir mudah , menjalani tiga kesibukan sekaligus, kerja, mengurus rumah tangga dan kuliah . Ternyata setelah diijalani, tak semudah yang kubayangkan. Kerja jadi tak tenang, terutama pada hari -hari dimana ada jam perkuliahan yang sedikit bersinggungan dengan jam kerja . Belum lagi jika ada suatu pekerjaan yang belum terselesaikan di kantor. Waktu kebersamaan dengan anak-anak yang semakin sedikit. Hari libur yang seharusnya bisa berkumpul bersama keluargapun tak bisa dinikimati karena harus pergi kuliah seharian penuh.

Hingga suatu saat aku dihadapkan pada suatu keadaan yang benar benar membuat aku dilema. Keragu-raguanpun mulai muncul antara terus kuliah atau berhenti. Akhirnya kuutarakan keinginanku untuk berhenti kuliah  pada suamiku, walau sebenarnya aku sadar bahwa keputusan untuk berhenti kuliah saat itu sebuah keputusan yang emosional. Suamikupun menyadarinya, maka saat itu dia hanya menjawab dengan kata kata seperti ini ,: ” Aku tahu sekarang kamu bisa bilang ingin berhenti kuliah, tapi pasti dilain waktu pasti kamu akan kembali meyakinkanku lagi untuk tetep kuliah lagi.  Akupun menjawab; Tolong aku sudah ambil keputusan ini, jadi please, tolong dukung aku, yakinkan aku, bahwa ini benar benar keputusan yang terbaik. Yakinkan aku seperti pada saat kamu melarangku untuk kuliah dulu. Setelah itu baru suami percaya bahwa aku benar berniat untuk berhenti kuliah.

Disaat suamiku mulai percaya akan keinginanku, justru aku yang mulai ragu kembali. Apalagi jika mendengar nasehat dari teman yang mengatakan eman-emanlah sudah bayar mahal mahal kok berhenti, sayang kan masih umur tiga puluhan nggak kuliah, nggak apa-apalah, tiga tahun itu sebentar, nggak akan terasa. kalaupun harus sering meninggalkan rumah, ya..itulah perjuangan , menuntut ilmu kan juga wajib,  kalau sudah luluskan nanti anak-anakmu akan bangga, punya ibu seorang sarjana. Itulah nasehat nasehat dari temen yang mendukung aku untuk tetap lanjut.  Disaat mendekati  tanggal tanggal batas ahir untuk  registrasi semester berikutnya,aku semakin ragu, tiba tiba keinginan untuk tetap melanjutkan semakin kuat, akupun kembali mengutarakan keinginanku. Rupanya suamiku sudah tak menggubris, karena aku sudah berjanji untuk tak melanjtkan kuliah lagi. Akhirnya hingga semester berikutnya berjalan aku benar-benar berhenti kuliah. Sambil terus menata hati, menghibur diri sendiri, berusaha ikhlas menerima keputusan ini. Sayang memang jika mengingat 8 juta yang sudah kubayar, namun jumah uang segitu tak ada artinya jika dibandingkan kebersamaan keluarga yang akan terenggut jika aku nekat tetap melanjutkan kuliah. Kalau memang niatku benar-benar menuntut ilmu, toh tak harus melalui bangku kuliah. Tak usahlah memikirkan pangkat golongan dll yang ujung-ujungnya uang , toh saat ini sudah mendapatkan lebih dari cukup .

Waktu terus berjalan, setelah berhenti kuliah Tuhan menganugerahkan dua krucil lagi pada kami.  Pelan – pelan prioritas hidup pun berubah .Yang terpenting bagiku sekarang adalah keluarga Apalagi sekarang kami juga memilih untuk bertangung jawab penuh pada pendidikan anak-anak kami. Mulai belajar manajemen waktu.  Kuliah memang berhenti, tapi  semoga  keinginan untuk  belajar  tetap ada. Apalagi sekarang kemajuan tehnologi sedemikian maju sehingga sangat memungkinkan untuk menuntut ilmu tanpa harus pergi jauh jauh dari rumah.  Salah satu contohnya bisa mengikuti kuliah online di Institut Ibu Professional . Tapi jangan membayangkan kalau kuliah di Institut Ibu Professional ini untuk mendapatkan gelar sarjana. Jika dulu ingin sekali kuliah S1 akuntansi,  sekarang lebih tertarik ilmu-ilmu yang bisa langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari/ keluarga, semacam edukasi, ketrampilan dan parenting .

Karena aku memilih untuk tidak kuliah bukan berarti tidak mendukung  orang lain terutama working mom yang ingin kuliah. Tiap keluarga punya prioritas yang berbeda beda. Justru aku akan merasa salut , jika bisa menjalaninya, karena bagiku suatu hal yang sulit. Sedangkan menjadi ibu bekerja saja terkadang masih merasa dilema. Masih terus belajar dan berproses agar bisa jadi ibu yang baik bagi suami dan anak-anak.

Iklan

3 Tanggapan to “Ketika Harus Berhenti Kuliah”

  1. tia 15 November 2014 pada 10.56 #

    situasi inilah yang sekarang saya hadapi…..bagaimana solusinya

    • Bunda Nafazayan 2 Januari 2015 pada 18.34 #

      Saya lebih memilih berhenti dan fokus mengurus keluarga dan bekerja, meskipun awalnya berat, tapi Alhamdulillah saya ngga nyesal dan yakin itulah keputusan terbaik untuk semua

  2. dimas 29 April 2016 pada 10.09 #

    Sangat mengesankan, saat ini juga sy sedang dilema bu, sy ingin berhenti kuliah karena sampai saat ini blm dpt pekerjaan yg sabtu minggu libur, jd blm ada biaya utk menopang kebutuhan keluarga dan sy harus berhenti kuliah di STIMIK Widya Utama Purwokerto,
    sangat menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: