Kelahiran Dedek “Kenzie “

24 Jun
KENZIE

KENZIE

“ Persalinan kali ini memang terasa berbeda karena, aku bebas memilih posisi persalinan senyaman mungkin, begitu bayi lahir langsung IMD (Inisiasi Menyusui Dini ) , tali pusat tidak langsung dipotong ( Delay Cord Clamping ) ,  dan baru pertama kali menjalani persalinan dengan  didampingi suami , yang sebelumnya suami hanya menunggu di luar kamar bersalin..dan lahirnyapun  sesuai dengan HPL…”

Siang, 02 Juni perut sudah mulai kenceng-kenceng namun belum begitu intens, dan kencengnyapun masih terasa biasa dan masih bisa beraktifitas seperti biasa. Hingga sorepun masih berlanjut. Jam 17.30, aku sms bidan aku menyampaikan bahwa dah mulai sering kontraksi tapi nggak begitu kuat, kemudian aku disarankan ke Rumah Sakit saja. Kebetulan memang sebulan sebelum ini aku dan suami sudah merencanakan untuk ditangani seorang bidan pro Gentle Birth disebuah RS Bersalin ” Panti Nugroho ” Purbalingga , saking inginnya menjalani persalinan ” Gentle Birth ” . Karena kontraksinya belum begitu kuat, aku putuskan tetap dirumah dulu, karena aku sendiri masih ragu, apakah mau melahirkan malam ini. Kalau yang sudah-sudah, tunggu ada flek, baru berangkat kerumah sakit.  Habis magrib aku sempatkan jalan-jalan sekalian ke rumah kakak yang memang agak dekat, dengan harapan kontraksi terus berlanjut dan semakin kuat, karena aku berharap ini benar-benar kontraksi persalinan. Sepulang dari tempat kakak, kontraksi makin intens, selang 15 menit sekali. Kemudian aku bawa untuk beristirahat, karena menurut yang aku pernah baca, jika dibawa istirahat dan kontraksi tetep berlangsung berarti bukan kontraksi palsu( braxton hick ) tapi kontraksi menjelang persalinan. Setelah aku bawa istirahat, ternyata kontraksi tetap berlangsung, hingga sekitar jam 20.00, aku mulai ngeflek, walaupun masih sangat sedikit dan samar-samar. Segera aku ajak suamiku untuk ke Rumah Sakit. Agak ragu juga, mau ke RSU Banyumas, atau ke Purbalingga seperti yang sudah direncanakan. Masalahnya aku juga ada kecemasan, jarak Banyumas Purbalingga cukup jauh, apalagi dengan mengendarai motor, takutnya dijalan semakin kuat kontraksinya. Disamping itu agak galau juga, ternyata bidanku sedang berada di luar kota, tepatnya di Majenang . Tapi suamiku tetep memilih agar aku melahirkan di Purbalingga saja.  Segera aku sms dan coba hubungi bidanku, tapi tak bisa karena signal disana kurang  bagus. Dengan berboncengan sepeda motor, aku dan suamiku berangkat, sambil tetap berusaha menghubungi bidanku.  Duh semakin cemas, soalnya jarak Majenang Purbalingga cukup jauh, bisa sampai tiga jam perjalanan.

Jam 21.00 , aku sampai di Purbalingga, sesampai disana langsung di periksa cek tensi dan VT ( Vaginal Toucher ) ternyata belum ada bukaan. Agak down juga ketika petugas menyampaikan bahwa tensiku tinggi. Padahal selama ini tensiku normal-normal saja, bahkan agak rendah. Mungkin karena cemas dalam perjalanan, aku coba untuk setenang mungkin.  Selang setengah jam cek tensi kembali, Alhamdulilah sudah turun . Oleh  petugas sempat ditawarkan apakah mau pulang dulu atau langsung mondok. Aku memilih langsung mondok, karena sudah menempuh perjalanan Banyumas Purbalingga, masa aku harus balik lagi, selain itu aku yakin, malam ini bakalan lahiran mengingat kontraksinya sudah mulai kuat. Ahirnya aku coba untuk beristirahat.

SEBELUM DIPOTONG TALI PLACENTA

SEBELUM DIPOTONG TALI PLACENTA

Jam 01.30, aku bangunkan suami, karena kontraksi sudah semakin kuat. Kemudian setelah diperiksa lagi, ternyata baru bukaan 3, tapi menurut bidan jaga kepala bayi masih diatas dan sama sekali belum teraba.  Sekitar  jam 01.45 ketuban pecah. Tak lama berselang bidanku sampai dari Majenang dan langsung mengambil alih, menangani persalinanku.  Agak lega rasanya, kalau biasanya  pasien mau melahirkan hanya dianjurkan tidur miring kiri diatas tempat tidur, tapi dalam Gentle Birth pasien bebas memilih posisi yang paling nyaman dan  karena di atas tempat tidur bagiku kurang nyaman, aku pilih posisi berdiri dengan berpegangan pada tempat tidur, selain dibantu oleh gravitasi yang memungkinkan tulang panggul terbuka dan bayi turun melewati jalan lahir, aku juga jadi bisa lebih konstrasi dan tenaga yang dikeluarkan jadi terarah sepenuhnya ke bawah  dan ternyata dengan posisi ini jauh lebih nyaman dan nyerinyapun sangat-sangat berkurang. Hingga kurang dari satu jam, tenyata sudah pembukaan lengkap, langsung naik ketempat tidur agar saat bayi keluar bisa langsung IMD ( Inisiasi Menyusui Dini ). Alhamdulillah dua kali mengejan dedek “ Kenzie” keluar tepat jam 02.47, dengan dua kali lilitan tali pusat ( hmm pantes saja pada awal-awal bukaan agak lama ) kemudian langsung direbahkan ke atas badanku, agar bisa IMD. Jika pada persalinan yang sudah-sudah begitu bayi lahir langsung di klem dan di potong tali pusatnya, lalu  dibawa perawat untuk dibersihkan, ditimbang dan diukur panjang badan dan lingkar kepala, tapi untuk kali ini berbeda. Begitu bayi lahir langsung diletakkan di atas badanku, sementara bidan mengeluarkan placenta ( tanpa di klem ) hanya dengan tangan .  Placentapun tidak langsung dipotong, hanya ditaruh dalam wadah.  Sementara dedek bayi IMD, bidan meyelesaikan proses heating ( jahit ) , karena kebetulan ada sedikit robekan di jalan lahir. Setelah itu baru dilakukan timbang badan dan lain-lainnya. Keesokan harinya , talipusat  baru dipotong dengan dibakar menggunakan lilin.( Burning Cord ) Manfaat dari penundaan pengekleman / pemotongan tali pusat  ( Delay Cord Clamping ) untuk bayi termasuk masih diberinya kesempatan untuk darah merah, sel-sel batang dan sel-sel kekebalan untuk ditransisi ke tubuh bayi di luar rahim. Dan untuk ibu, dengan dengan menunda penjepitan tali pusat ternyata bisa mengurangi komplikasi seperti perdarahan ,  selain itu penjepitan tali pusat yang tertunda dapat membuat kadar hematokrit yang lebih tinggi, transportasi oksigen lebih optimal dan aliran sel darah merah yang lebih tinggi ke organ vital, anemia bayi berkurang dan meningkatkan durasi menyusui. Pada awalnya kami berencana untuk Lotus Birth ( membiarkan tali placenta terlepas dengan sendirinya ) tapi mengingat kondisi yang repot, dan anak-anak juga kasihan kalau harus ditinggal terlalu lama di RS, ahirnya kami putuskan hanya penundaan pemotongan tali pusat saja.

Untuk para bunda yang tinggal di Purbalingga, Purwokerto, Banyumas dan sekitarnya jika ingin menjalani proses persalinan se gentle mungkin, bisa hubungi bubid Dhian Ratnaningsih, kontak beliau bisa dilihat  sini 

PROSESI PEMOTONGAN TALI PLACENTA

PROSESI PEMOTONGAN TALI PLACENTA

Persalinan kali ini memang terasa berbeda karena, aku bebas memilih posisi persalinan senyaman mingkin, begitu bayi lahir langsung IMD, tali pusat tidak langsung dipotong,  dan baru pertama kali menjalani persalinan dengan  didampingi suami , yang sebelumnya suami hanya menunggu di luar kamar bersalin..dan lahirnya sesuai dengan HPL…

Terima kasih untuk bu Bidan Dian yang menyempatkan balik dari Majenang, untuk menangani persalinanku..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: