Suka Duka Memiliki Anak Banyak

14 Des

FOTO FBSaat menikah , kami memang tak punya kesepakatan  berapa jumlah anak yang ingin kami miliki.Namun dalam hati kecilku sebenarnya punya keinginan cukup memiliki tiga orang anak saja. Tak disangka di usia 12 tahun pernikahan kami, sudah dikaruniai akan dikaruniai lima orang anak.Mungkin dibandingkan jaman orang tua kami dulu,  jumlah lima orang anak adalah hal biasa, mengingat suami juga anak kedelapan dari sembilan bersaudara, dan aku sendiri anak ketiga dari enam bersaudara. Namun untuk seorang PNS yang rata-rata hanya memiliki dua orang anak, karena kebetulan yang masuk tunjangan memang cuma dua anak, memiliki lima orang anak bisa dikatakan sudah cukup banyak, apalagi lebih.

Kadang-kadang ada yang bertanya, apa ya nggak repot..apalagi untuk ibu yang bekerja. Mungkin kalu dilihat dari luar atau dibayangkan ya repot..Tapi kalau sudah dijalani ya semua berjalan biasa-biasa saja.. Capek si memang capek..bagaimana tidak , disaat baru memiliki satu dua orang anak pulang kerja ngantuk bisa langsung beristirahat dan tidur siang, tapi sekarang yang namanya tidur siang dah seperti barang langka .

Memiliki rumah yang selalu terlihat rapi dan bersih adalah impian semua orang. Namun bagi kami yang memiliki empat anak dan diantaranya masih  anak balita, melihat pemandangan rumah yang seperti kapal pecah adalah hal biasa. Bukannnya tak pernah dirapikan, tapi biasanya baru dirapikan sebentar sudah kotor dan berantakan kembali. Tapi  mengapalah..demi kebebesan berekplorasi dan berkreasi..kata Iklan R**NSO berani kotor itu baik. Salah satu trik yang bisa diterapkan mengatasi hal ini adalah dengan memberikan pengertian kepada anak-anak  dan melibatkan mereka dalam kegiatan beres-beres rumah. Meskipun terkadang tergantung mood anak-anak juga, yang penting sebagai orang tua ikut terlibat, karena dari pengalaman, anak-anak enggan jika sekedar disuruh-suruh tanpa kita terlibat langsung.

Selain kondisi rumah yang sering terlihat tak rapi  keributan keributan kecil juga sering terjadi.Tak jarang hanya bermula dari gurauan dan candaan, kemudian berlanjut dengan adu mulut, sampai berlanjut adu fisik . Jika mengalami hal demikian biasanya akan kami biarkan terlebih dahulu,dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri  sambil terus di awasi tentunya, apabila memang dirasa perlu barulah orang tua ikut campur tangan.Ternyata segala sesuatu tergantung bagaimana kita menjalaninya. Dan ternyata yang terpenting adalah kesabaran. Tak jarang disaat -saat sedang capek kita harus dihadapkan dengan keributan dan pertengkaran anak.

Melihat anak-anak bermain bersama, belajar bersama dan bercanda penuh canda tawa memang hal yang  sehat semua adalah hal yang menyenangkan. Ketika salah satu tak ada di rumah, rasanya ada sesuatu yang hilang, sepi.   Apalagi jika ada yang sakit, sedih rasanya. Dan biasanya , ketika satu anak sakit yang lainpun ikut-ikutan sakit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: